Suatuhari CIA (agen rahasia USA) berniat merekrut seorang pembunuh bayaran untuk melaksanakan misi di Irak. Ada ribuan peserta yang mencoba melamar pekerjaan ini karena tergiur dengan bayaran 1 juta dollar. Setelah menjalani puluhan macam tes,hanya tersisa 3 orang lagi (2 pria, 1 gadis muda) untuk melewati tes terakhir.
Anggunganperkutut yang sangat merdu di telinganya, tetapi membuat gelisah perasaannya dan membuat risau pikirannya. Anggungan perkutut yang terus terngiang di telinganya. Anggungan perkutut yang membuatnya tidak nyenyak tidur. Anggungan perkutut yang membuat dirinya hampir saja menabrak orang di tepi jalan ketika mengojek orang ke pasar.
Tapiapa gunanya malu dalam kondisi semacam itu? Untungnya, tiba-tiba seorang pemuda keluar dari salah satu rumah di kompleks tersebut. Saya segera menghampiri, bertanya arah terdekat menuju stasiun kereta dalam kota. Pemuda itu menawarkan tumpangan karena hujan yang kian lebat. Saya beruntung tidak berakhir di atas meja bedah seorang pembunuh
Vay Tiền Nhanh. JAKARTA - Atas saran orang alim itu, sang pembunuh segera hijrah dari negeri asalnya. Pria yang telah menewaskan seratus nyawa itu ingin memulai babak baru kehidupan, di negeri tujuan yang berisi banyak orang salih. Kisahnya diceritakan dalam hadits Nabi Muhammad SAW, sebagaimana riwayat Imam Muslim. Rasulullah SAW menuturkan, "Dia sang pembunuh 100 jiwa pun berangkat. Saat tiba di persimpangan jalan, ajal datang menjemputnya. Lalu datanglah Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab; keduanya memperebutkannya. Malaikat Rahmat berkata, 'Dia datang dalam keadaan bertaubat dan menghadapkan hatinya kepada Allah.' Sementara, Malaikat Azab berkata, 'Dia belum melakukan satu kebaikan pun.' Akhirnya, turun sesosok malaikat yang berwujud manusia. Kemudian, keduanya Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab sepakat untuk menjadikannya penengah. Dia berkata, 'Ukurlah jarak di antara tanah tempat kematian sang pembunuh. Lalu perhatikan, ke arah mana dia lebih dekat. Maka berarti dia termasuk penghuni tempat itu.' Masing-masing pun mengukurnya. Ternyata, pria tersebut lebih dekat ke arah negeri yang hendak dia tuju. Maka Malaikat Rahmat kemudian menemani jiwanya." Menurut Umar Sulaiman al-Asyqar dalam bukunya, Shahihul Qashash an-Nabawy, kisah tersebut membuka pintu harapan bagi siapapun orang beriman yang hendak meraih ampunan Allah SWT. Ingat kembali surah az-Zumar ayat ke-53. Artinya, "Katakanlah, 'Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'" Allah melarang kita untuk berputus asa dan meyakinkan kita betapa ampunan-Nya amat luas. Lihatlah, pria yang telah membunuh seratus nyawa. Atas izin Allah SWT, langkah kakinya digerakkan dalam hijrah menuju kehidupan yang lebih islami. Walaupun dia sudah meninggal sebelum mencapai negeri tujuan, ternyata taubatnya sudah diterima Allah SWT. Demikian pula. Menurut Syekh Umar Sulaiman, dari kisah ini dapatlah dipetik suatu hikmah. Betapa rahib yang menjadi korban ke-100 merupakan orang yang pandai beribadah, tetapi belum tentu berilmu. Kata-katanya yang menghakimi-bahwa taubat sang pembunuh tidak mungkin diterima-terbukti keliru. Rahib tersebut kurang bijak bila dibandingkan dengan ulama yang menasihati sang pembunuh agar hijrah dari negeri asalnya. Ulama tersebut menilai, siapapun hamba Allah berkesempatan mendapatkan naungan dan ampunan-Nya. Dengan begitu, terbukalah jalan menuju pintu taubat; tertutuplah celah kembali kepada kemaksiatan. sumber Islam Digest RepublikaBACA JUGA Update Berita-Berita Politik Perspektif Klik di Sini
DALAM sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dikisahkan bahwa dahulu ada seorang lelaki yang telah membunuh 99 orang. Lelaki ini telah berlumuran darah, jari jemarinya, pakaiannya, tangan dan pedangnya semuanya basah oleh darah. Lelaki pelaku kejahatan ini telah melumuri dirinya dengan darah jiwa yang diharamkan oleh Allah membunuhnya serta mencabut nyawa mereka. Sesudah dirinya berlumuran dengan kejahatan dan dosa besar ini, dia menyadari kesalahannya. BACA JUGA Bertahun-tahun Bekerja, Kau Tak Bisa Bedakan Buah Masam dan Manis? Maka keluarlah ia dengan pakaian yang berlumuran darah, sedang pedangnya masih meneteskan darah segar dan jari jemarinya belepotan darah juga. Ia datang bagaikan seorang yang mabuk, gelisah, ketakutan seraya bertanya-tanya kepada semua orang, “Apakah aku masih bisa diampuni?” Orang-orang berkata, “Kami akan menunjukkanmu kepada seorang rahib yang tinggal di kuilnya, maka sebaiknya kamu pergi ke sana dan tanyakanlah kepadanya apakah dirimu masih bisa diampuni.” Dia menyadari bahwa tiada yang dapat memberi fatwa dalam masalah ini, kecuali hanya orang-orang yang ahli dalam hukum Allah. Ia pun pergi ke sana, ke tempat rahib itu, seorang ahli ibadah dari kalangan kaum Bani Israil. Pertemuan Dengan Rahib. Dia pergi melangkah dengan langkah yang cepat dengan penuh penyesalan karena dosa-dosa yang telah dilakukannya. Lalu ia mengetuk pintu kuil si rahib tersebut. Lelaki pembunuh itu masuk dan ternyata pakaiannya masih berlumuran darah segar, membuat si rahib kaget bukan kepalang. Si rahib berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari kejahatanmu.” Si pembunuh bertanya, “Wahai rahib ahli ibadah, aku telah membunuh 99 orang, maka masih adakah jalan bagiku untuk bertobat?” Si rahib spontan menjawab, “Tiada taubat bagimu.” Akhirnya si pembunuh ini putus asa memandang kehidupan ini. Di matanya, dunia ini terasa gelap, kehendak dan tekadnya melemah, dan keindahan yang terlihat di matanya menjadi buruk. Si pembunuh ini akhirnya mengangkat pedangnya dan membunuh rahib itu sebagai balasan yang setimpal untuknya guna menggenapkan 100 orang manusia yang telah dibunuhnya. Selanjutnya ia keluar menemui orang-orang guna menanyakan lagi kepada mereka, bukan karena alasan apa, melainkan karena jiwanya sangat menginginkan untuk taubat dan kembali ke jalan Tuhannya serta menghadap kepada-Nya. Ia bertanya kepada mereka, “Masih adakah jalan untuk bertaubat bagiku?” BACA JUGA Imam Ahmad dan Tukang Roti Mereka menjawab, “Kami akan menunjukkanmu kepada Fulan bin Fulan, seorang ulama, bukan seorang rahib, yang ahli tentang hukum Tuhan.” Pertemuan Dengan Orang Alim. Setelah pembunuh itu ditunjukkan ke tempat seorang alim, akhirnya si pembunuh itu pergi menemui orang alim itu yang pada saat itu berada di majelisnya sedang mengajari generasi dan mendidik umat. Orang alim itu pun tersenyum menyambut kedatangannya. Begitu melihatnya, ia langsung menyambutnya dengan hangat dan mendudukkan di sebelahnya setelah memeluk dan menghormatinya. Ia bertanya, “Apakah keperluanmu datang kemari?” Ia menjawab, “Aku telah membunuh 100 orang yang terpelihara darahnya, maka masih adakah jalan taubat bagiku?” Orang alim itu balik bertanya, “Lalu siapakah yang menghalang-halangi antara kamu dengan taubat dan siapakah yang mencegahmu dari melakukan taubat? “Pintu Allah terbuka lebar bagimu, maka bergembiralah dengan ampunan, bergembiralah dengan perkenan dari-Nya, dan bergembiralah dengan taubat yang mulus.” Si pembunuh berkata, “Aku mau bertaubat dan memohon ampun kepada Allah.” Orang alim berkata, “Aku memohon kepada Allah semoga Dia menerima taubatmu.” Selanjutnya orang alim itu berkata kepadanya, “Sesungguhnya engkau tinggal di kampung yang jahat, karena sebagian kampung dan sebagian kota itu adakalanya memberikan pengaruh untuk berbuat kedurhakaan dan kejahatan bagi para penghuninya. BACA JUGA Si Fulan Bisa Terbang dan Seseorang Bisa Berjalan di Atas Air “Barangsiapa yang lemah imannya di tempat seperti itu, maka ia akan mudah berbuat durhaka dan akan terasa ringanlah baginya semua dosa, serta menggampangkannya untuk melakukan tindakan menentang Tuhannya, sehingga akhirnya ia terjerumus ke dalam kegelapan lembah dan jurang kesesatan. “Akan tetapi, apabila suatu masyarakat yang di dalamnya ditegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar, maka akan tertutuplah semua pintu kejahatan bagi para hamba. “Oleh karena itu, keluarlah kamu dari kampung yang jahat itu menuju ke kampung yang baik. “Gantikanlah tempat tinggalmu yang lalu dengan kampung yang baik dan bergaullah kamu dengan para pemuda yang shalih yang akan menolong dan membantumu untuk bertaubat.” Singkat cerita, akhirnya sang pembunuh meninggalkan kampung itu dan pergi ke tempat yang ditunjuk oleh orang alim terakhir sambil menangis dan menangis menyesali semua perbuatnya. Dari satu kampung ke kampung lain telah dilewatinya dan semakin dekat denga tempat yang dituju. Belum sampai pada tempat yang dituju, sang pembunuh ini meninggal di tengah perjalanan. Apakah taubatnya diterima Allah SWT? Saat itu turunlah 2 orang malaikat yang memperebutkan sang pembunuh, yang seorang berkeyakinan untuk menceburkannya ke dalam neraka dan seorang lagi berkeyakinan untuk memasukkannya ke dalam surga. Karena perebutan terjadi, maka mengadulah kedua malikat itu kepada Allah SWT. BACA JUGA Bapak Tua dan Domba-dombanya Allah SWT memberikan perintah untuk mengukur jarak antara kampung maksiat dengan tempat yang dituju. Setelah diukur, ternyata sang pembunuh sudah mendekati jarak dengan kampung orang alim tempat yang ditujunya. Maka surgalah tempat orang itu berada. Subhanallah… Sungguh besar sekali pengampunan Allah SWT kepada hamba-Nya. Tak terkirakan dosa yang dilakukan manusia, Allah SWT tetap memberikan ampunan selama orang tersebut mau bertobat dengan taubatan nasuha. []
Bisa, saya bisa menjawab, dan ada 6 orang yang tinggal di dalam kamar tersebut. Mereka adalah seorang yang masih hidup, seorang pembunuh, dan 4 orang yang telah terbunuh. Pembahasan Sebelum kakak jawab, pertanyaan yang adik ajukan memiliki pertanyaan yang secara lengkap apabila dituliskan, akan menjadi seperti ini "Bisakah kamu menjawab ini? Ada 5 orang di dalam suatu kamar, tiba-tiba seorang pembunuh datang dan membunuh 4 orang dari 5 orang, berapakah orang yang tinggal di dalam kamar tersebut? " Karena dalam pertanyaan memiliki 2 tanda tanya, maka kita akan memiliki 2 jawaban. PERTANYAAN 1 Bisakah kamu menjawab ini? Jawab Bisa, saya bisa menjawab ini. _______________ PERTANYAAN 2 Ada 5 orang di dalam suatu kamar, tiba-tiba seorang pembunuh datang dan membunuh 4 orang dari 5 orang, berapakah orang yang tinggal di dalam kamar tersebut? Jawab Pada awal cerita, kita ketahui bahwa semula jumlah orang yang ada di dalam kamar adalah 5 orang. Ketika seorang pembunuh datang ke dalam kamar tersebut, maka jumlah orang yang tinggal di dalam kamar tersebut menjadi 6 orang 5 orang + 1 penjahat. Pasca terjadinya pembunuhan, diketahui 4 orang terbunuh, maka sisa orang yang masih hidup di dalam kamar adalah 2 orang, yaitu si pembunuh dan seorang yang masih selamat. Apabila ditanyakan, “Berapa jumlah orang yang masih hidup di dalam kamar tersebut?” maka jawabannya adalah 2. Namun karena ditanyakan “Berapa jumlah orang yang tinggal di dalam kamar tersebut?”, maka jawabannya adalah 6 orang termasuk orang yang telah mati. Sebab ketika seseorang mati, jasadnya tidak lantas hilang melainkan masih tergeletak di tempat kejadian perkara, selain itu orang yang mati tetap dapat disebut sebagai orang. Pelajari Lebih Lanjut Teka-teki tentang kapal selam, baca di Teka-teki tentang suatu hal yang harus dibuka terlebih dahulu, baca di Detail Jawaban Kelas - Mapel Umum Bab - Kode - Kata Kunci Riddle, brain teaser, teka-teki, teka-teki terbaru, contoh riddle, teka-teki sederhana, teka-teki bahasa Indonesia, quiz detektif, kuis detektif.
ada lima orang dalam kamar tiba tiba datang seorang pembunuh